Kelab Radio Amatur Komunikasi Bencana

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Etika Komunikasi Dalam Islam

E-mail Print PDF

Ta'lim Sakinah

Allah SWT berfirman:Dan berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu,….”

(Ali Imran: 159)

Dari firman Allah ini, betapa besar peranan komunikasi dalam tatanan hidup manusia sebagai mahluk sosial. Menurut pakar komunikasi, dalam masa 24 jam, 70% waktu manusia diisi dengan komunikasi. Begitu banyaknya waktu yang kita habiskan dalam komunikasi. Salah komunikasi atau 'miscommunication' akan mengakibatkan salah persepsi, atau dalam bahasa umumnya “tidak bersambung”.

Faktor yang paling penting dalam berdakwah ialah komunikasi. maka sebagai muslim kita harus tahu etika berkomunikasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Rasullullah SAW adalah komunikator yang paling hebat, setiap pesanan yang beliau sampaikan pasti berkesan dihati para sahabat, bahkan dihati kaum musyrik yang memusuhinya.

Tiada agama yang paling sempurna kecuali Islam, tidak kira siapapun sama ada ia muslim atau non musli bila saja mau menggunakan akal untuk berpikir, pasti akan sampai pada kesimpulan yang sama. Bayangkan, Islam tidak hanya mengatur kehidupan akhirat, duniawi, teknologi, bahkan sampai kepada hal-hal yang kecil pun seperti tatacara mandi, berpakaian atau tidur diatur Islam, melalui sunnah Rasullulah SAW, uswatun hasanah bagi kita.

Islam juga banyak mengatur tatacara berkomunikasi. Sungguh beruntung kita ditakdirkan sebagai seorang muslim, karena hidup kita mempunyai tuntunan yang lengkap dan menyeluruh. Lengkap karena kita memiliki Al Quran dan hadits sebagai sumber hukum yang paling otentik dan dipercayai.

Rasululah SAW mengatakan, ”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang dapat bermanfaat bagi orang lain,” atau, ”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang sangat baik kepada tetangganya,” dan banyak lagi hadits-hadits yang menyuruh kita untuk mencintai saudara kita sesama muslim seperti kita mencintai diri kita sendiri. Semua ini membuktikan betapa kita harus berkomunikasi dengan nilai-nilai Islam, hingga lisan kita tidak akan menyakiti orang lain, bahkan sebaliknya setiap kata yang diucapkan dapat menyejukkan hati.

Allah SWT berfirman, ”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan berpuak-puar agar kamu saling mengenali, sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah adalah yang paling takwa diantara kamu sekalian”.

(Al Hujarat: 13)

Dari ayat ini, Allah SWT menyuruh kita untuk saling mengenal, mestipun berbeza suku, berbeza bangsa, berbeza budaya, berbeza warna kulit. Sebagai manusia kita harus menjalin komunikasi yang baik. Seterusnya Allah juga menegaskan yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling kaya, paling cantik, paling pintar, paling popular dan sebagainya, namun yang paling mulia adalah manusia yang paling bertakwa kepada Allah SWT.

Setiap manusia mempunyai karakter, sifat dan keperibadian yang berbeza. Hatta anak yang lahir kembar identik pun pasti memiliki sifat dan karakter yang tidak sama. Untuk itu Islam mengatur tatacara bergaul yang benar, agar seseorang dapat bersinergi dengan orang lain walaupun mempunyai keperibadian, sikap dan watak yang berbeza.

Allah SWT berfirman, ”Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.”

(Al Furqaan: 63)

Rendah hati (tawadhu') dan mengucapkan kata-kata yang baik (Qaulan Salaamah). Rendah hati adalah sifat yang sangat mulia, orang yang tawadhu' akan tercermin dari sifat dan tingkah lakunya. Dalam pergaulan orang yang tawadhu pasti disenangi, apabila mereka berkata-kara mereka berkata dengan sewajarnya, kepada yang lebih tua mereka menghormati, namun kepada yang lebih muda mereka menyayangi. Orang seperti ini bila ditakdirkan menjadi pemimpin, mereka akan tampil sebagai pemimpin yang amanah.

Bila kita baca riwayat hidup Rasullah SAW, manusia yang dijamin surga oleh Allah SWT, sungguh rendah hati terhadap keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

Beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepadaku, iaitu kamu sekalian hendaklah bersikap tawadhu' sehingga tidak ada seseorang bersikap sombong kepada yang lain, dan tidak ada seseorang menganiaya yang lain.”

(Hr Muslim)

Dan dalam riwayat yang lain Anas RA berkata, ”Bila ada seorang budak di Madinah memegang tangan nabi SAW, maka beliau pergi mengikuti kemana budak itu menghendaki.”

(Hr Bukhari)

Sungguh, sikap tawadhu' benar-benar dicontohkan langsung oleh rasul, yang tidak membezakan status sosial walaupun baginda adalah manusia yang paling mulia di dunia dan akhirat namun tetap menghargai seorang budak.

Sebagai Muslim yang baik, kita harus sentiasa menjaga setiap kata-kata yang keluar dari mulut kita kerana setiap lafaz yang kita ucapkan akan dipertanggungjawabkan diakhirat kelak. Dalam pergaulan Qaulan Salaamah terdiri dari beberapa aspek lain seperti:

Pertama: Qaulan Kariiman (mulia) sebagai seorang muslim kita harus berkata dengan kata-kata yang mulia, hindarilah kata-kata yang hina, seperti mengejek, mengolok-ngolok hingga menyakiti hati dan perasaan orang lain. Pepatah mengatakan, ”Memang lidah tidak bertulang, tak terbatas kata-kata”. Walaupun lidah tak bertulang, namun lidah boleh menjadi lebih tajam dari sembilu. Ramai orang akan sembuh bila dilukai dengan pedang, namun bila dilukai dengan lidah, sakitnya akan terbawa sampai mati. Hati-hati dengan perkataan, bila ingin bergurau tetap jaga lisan dari kata-kata yang menyakiti, bergurau dan bergaul harus tetap dengan kata-kata yang mulia.

Kedua: Qaulan ma’rufan (baik) “Berkatalah yang baik atau diam” itu pesan Rasullulah SAW kepada umatnya. Sebagai muslim yang beriman lisan harus terjaga dari perkataan yang sia-sia. Walau apapun yang diucapkankan harus selalu mengandung nasihat, menyejukkan hati bagi orang yang mendengarnya. Jangan biarkan lisan ini mencari-cari keburukan orang lain. Hindari kata-kata yang hanya boleh mengkritik atau mencari kesalahan orang lain, memfitnah, menghasut. Sungguh, perbuatan yang sangat hina, hingga Allah berfirman dalam surah Al Hujarat ayat 12, seumpama orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Sungguh sangat menjijikkan.

Ketiga: Qaulan Syadidan (lurus dan benar). Seorang muslim harus berkara yang benar, jujur sahaja dan jangan berdusta kerana sekali kita berkata dusta, seterusnya kita akan berdusta untuk menutupi dusta kita yang pertama dan begitulah seterusnya, sehingga bibir kita pun selalu berbohong tanpa merasa berdosa. Siapapun tak ingin dibohongi. Seorang isteri akan sangat sakit hatinya bila mengetahui suaminya berbohong, begitu juga sebaliknya. Rakyat pun akan murka bila dibohongi pemimpinnya. Juga tidak kurang pentingnya dalam menyampaikan kebenaran, adalah keberanian untuk bersikap tegas, jangan ragu-ragu dan takut, apalagi jelas dasar hukumnya Al Quran dan hadits.

Katakanlah kebenaran itu, meskipun sangat menyakitkan,” pesan Rasullulah SAW, sejatinya menguatkan kita dalam menghadapi apapun risiko yang akan kita hadapi dalam berkomunikasi.

Keempat: Qaulan Balighan (tepat) sebagai orang yang bijak bila berkomunikasi kita harus melihat situasi dan kondisi yang tepat dan menyampaikan dengan kata-kata yang tepat. Bila berbicara dengan anak-anak kita harus berkata sesuai dengan pikiran mereka, bila berbicara dengan remaja kita harus mengerti dunia mereka. Jangan kita berdakwah tentang teknologi nuklear dihadapan jamaah yang berusia lanjut kerana perbuatan tersebut tentu sangat tidak tepat sasaran, malah membuat mereka semakin bingung..

Kelima: Qaulan Layyinan (lemah lembut), maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rasullulah SAW selalu bertuturkata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Seperti ayat pembuka diatas Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam berkomunikasi, karena kekerasan akan mengakibatkan apa yang ingin kita sampaikan tidak akan berhasil malah umat akan menjauhi kita. Dalam berdoapun Allah memerintahkan agar kita memohon dengan lemah lembut,

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lemah lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,”

(Al A’raaf ayat 55)

Demikian Allah mengajarkan kepada kita, dalam menjalin komunikasi, khususnya dengan saudara kita sesama muslim. Yakinlah bila tuntunan ini kita praktikkan dalam kehidupan baik di dalam rumahtangga, maupun masyarakat. Dimana pun kita berada, semuanya akan terasa indah. Karena muslim yang beriman keberadaannya akan selalu disenangi, kata-katanya menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya. Mampukah kita?

Mulai sekarang mari kita belajar untuk menjadi komunikator yang handal dengan cara berkata yang mulia, baik, benar, tepat dan lemah lembut. Semoga dengan ini Allah mengangkat darjat kita menjadi seorang yang menegakkan kemuliaan Islam, melalui lisan kita.

Wallahu’ alam